*motivasi saya masuk ke widya loka adalah untuk mempelajari tentang ilmu komputer lebih mendalam karna saya masih banyak belum tau tentang komputer
dan saya di widya loka juuga bisa mempelajari tentang internet dan juga saya bisa melakukan perakitann komputer
* pesan saya di widya loka adalah supaya selalu memberikan yang terbaik untuk anak2 yang belajar di widia loka
*kesan saya adalah saya sangat senang belajar di widya loka karna semua guru yang masuk bisa menjelaskan semua pelajaran dengan baik dan mudah untuk di fahami
* saya salama belajar di widya loka sangat banyak mendapat pembelajaran seperti photoshop dan pemograman beserta internet dan yang lain lagi
Selasa, 12 Februari 2019
Selasa, 05 Februari 2019
permainan anak jaman OLD
ASALAMUALAIKUM WRR.WB
hallo teman-teman kaliini saya akan membagi sebuah permainan
PERMAINAN TRADISIONAL
pasti kalian yang anak jaman sekarang banyak yang gak tau kan silakan lihat-lihat
1. Kelereng atau gundu
Dok. Istimewa 2. Bentengan
budayajawa.id 3. Lompat tali

Kalau kelereng sering dimainkan anak cowok, kayaknya lompat tali justru sering dimainin sama anak cewek. Cuma bermodalkan karet yang dirangkai seperti seutas tali, kamu hanya perlu melompatinya mulai dari posisi yang rendah hingga posisi tertinggi. Kalau salah satu anggota timmu ada yang gagal, maka yang lainnya harus siap untuk membelanya dengan cara berjalan dua kali. Eits, tapi kalau ipis gak boleh kena tali lho ya!
4. Engklek atau tapak gunung
faktaanak.com 5. Egrang
yogyakarta.panduanwisata.id metamorfosa kupu-kupu
ASALAMUALAIKUM WR.WB
hallo teman-teman ketemu lagi di blog saya
kalini video saya akan menujukan tetang metamorfosa kupu-kupu
selamat menonton dan semoga terhibur๐๐
membuat eskrim sederhana
ASALAMUALAIKUM WR.WB
hay teman-teman selamat datang di blog saya
kali ini saya akan membagi ilmu cara membuat eskrim putar
berikut video nya selamat menikmati semoga bermanfaat ya. dan selamat mencoba ๐
tugas animasi garuda
ASALAMUALAIKUM WR.WB
kembali lagi bertemu dengan blog saya
blog saya kali ini akan menunjukan lambang-lambang benika tungal ika atau lambang pancasila
berikut lambang-lambang yang saya tunjukan
selamat menikmati :)
Selasa, 15 Januari 2019
aratikel pulaub penyengat
Pulau Penyengat
Pulau Penyengat (atau Pulau
Penyengat Inderasakti dalam sebutan sumber-sumber sejarah) adalah sebuah pulau
kecil di Kota Tanjungpinang,
Kepulauan Riau, yang berjarak kurang lebih
2 km dari pusat kota. Pulau ini berukuran panjang 2.000 meter dan lebar
850 meter, berjarak lebih kurang 35 km dari Pulau Batam. Pulau ini dapat ditempuh dari pusat
Kota Tanjung Pinang dengan menggunakan perahu bermotor atau lebih dikenal pompong
yang memerlukan waktu tempuh kurang lebih 15 menit.[1]
Pulau Penyengat
merupakan salah satu objek wisata di Kepulauan Riau. Di pulau ini terdapat berbagai
peninggalan bersejarah yang di antaranya adalah Masjid Raya Sultan Riau
yang terbuat dari putih telur, makam-makam para raja, makam dari pahlawan
nasional Raja Ali Haji,
kompleks Istana Kantor dan benteng pertahanan di Bukit Kursi. Sejak tanggal 19 Oktober 1995,
Pulau penyengat dan kompleks istana di Pulau Penyengat telah dicalonkan ke UNESCO untuk dijadikan salah satu Situs Warisan Dunia.[2]
Sejarah
Menurut cerita, pulau mungil di
muara Sungai
Riau, Pulau Bintan ini sudah
lama dikenal oleh para pelaut sejak berabad-abad yang lalu karena menjadi
tempat persinggahan untuk mengambil air tawar yang cukup banyak tersedia di pulau
ini. Belum terdapat catatan tertulis tentang asal mula nama pulau ini. Namun,
dari cerita rakyat setempat, nama ini berasal dari nama hewan sebangsa serangga yang mempunyai sengat.
Menurut cerita tersebut, ada para pelaut yang melanggar pantang-larang
ketika mengambil air, maka mereka diserang oleh ratusan serangga berbisa.
Binatang ini yang kemudian dipanggil Penyengat
dan pulau tersebut dipanggil dengan Pulau Penyengat. Sementara orang-orang Belanda menyebut pulau tersebut
dengan nama Pulau Mars.[1][3]
Tatkala pusat pemerintahan Kerajaan Riau bertempat di pulau itu ditambah
menjadi Pulau Penyengat Inderasakti. Pada 1803,
Pulau Penyengat telah dibangun dari sebuah pusat pertahanan menjadi negeri dan
kemudian berkedudukan Yang Dipertuan Muda
Kerajaan Riau-Lingga
sementara Sultan berkediaman
resmi di Daik-Lingga.
Pada tahun 1900, Sultan Riau-Lingga pindah ke Pulau Penyengat.
Sejak itu lengkaplah peran Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan, adat
istiadat, agama Islam dan kebudayaan
Melayu.[3]
Imperium
Melayu
Pulau Penyengat merupakan pulau yang
bersejarah dan memiliki kedudukan yang penting dalam peristiwan jatuh bangunnya
Imperium Melayu, yang sebelum terdiri dari wilayah Kesultanan Johor, Pahang, Siak dan Lingga, khususnya di bagian selatan dari Semenanjung Melayu.
Peran penting tersebut berlangsung selama 120 tahun, sejak berdirinya Kerajaan
Riau di tahun 1722, sampai akhirnya diambil
alih sepenuhnya oleh Belanda pada 1911.[1]
Perang
Saudara tahta Johor
Awalnya pulau ini hanya sebuah
tempat persinggahan armada-armada pelayaran yang melayari perairan Pulau Bintan, Selat Malaka dan sekitarnya. Namun pada tahun 1719
ketika meletus perang saudara
memperebutkan tahta Kesultanan Johor antara keturunan Sultan Mahmud Syah yang dipimpin putranya Raja Kecil melawan keturunan Sultan Abdul Jalil Riayatsyah yang dipimpin Tengku
Sulaiman.[1]
Pulau Penyengat mulai dijadikan kubu
pertahanan oleh Raja Kecil yang
memindahkan pusat pemerintahannya dari Kota Tinggi (Johor)
ke Riau di Hulu Sungai Carang (Pulau Bintan). Perang saudara itu dimenangkan
oleh Tengku Sulaiman dan saudaranya yang dibantu oleh lima orang bangsawan Bugis Luwu, yaitu Daeng Perani, Daeng Marewah, Daeng Chelak, Daeng Kemasi dan Daeng
Menambun. Yang mana seterusnya Tengku Sulaiman mendirikan kerajaan baru
yaitu Kerajaan Johor-Riau-Lingga, pada 4 Oktober 1722.[1] Sedangkan Raja Kecil menyingkir ke Siak
dan seterusnya mendirikan Kesultanan Siak.
Yang
Dipertuan Muda Riau
Pada masa Kerajaan
Johor-Riau-Lingga, Pulau Penyengat tetap berperan sebagai pusat pertahanan
sekaligus tempat kediaman dan pusat pemerintahan dari Yang Dipertuan Muda
Johor-Pahang-Riau-Lingga. Di kerajaan Riau-Lingga terdapat dua posisi jabatan
utama, yaitu Yang Dipertuan Besar atau Sultan yang berkedudukan di Daik, Lingga
dan Yang Dipertuan Muda yang berkedudukan di Pulau Penyengat. Walaupun lebih
rendah kedudukan Yang Dipertuan Muda, tetapi dia mengatur pemerintahan,
angkatan perang, perekonomian dan masalah-masalah operasional lainnya.[1]
Bangunan
Bersejarah
Masjid
Raya Sultan Riau
Masjid ini awalnya dibangun oleh Sultan
Mahmud pada tahun 1803. Kemudian pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII
Raja Abdurrahman, tahun 1832 masjid ini direnovasi dalam bentuk yang terlihat
saat ini. Bangunan utama masjid ini berukuran 18 x 20 meter yang ditopang oleh
4 buah tiang beton. Di keempat sudut bangunan, terdapat menara tempat Bilal
mengumandangkan adzan. Pada bangunan Masjid Sultan Riau terdpat 13 kubah yang
berbentuk seperti bawang. Jumlah keseluruhan menara dan kubah di Masjid Sultan
Riau sebanyak 17 buah yang melambangkan jumlah rakaat salat wajib lima waktu
sehari semalam.
Di sisi kiri dan kanan bagian depan
masjid terpdat bangunan tambahan yang disebut dengan Rumah Sotoh (tempat
pertemuan). Menurut sejarahnya, masjid ini dibangun dengan menggunakan campuran
putih telur, kapur, pasir dan tanah liat.
Mushaf
al-Quran
Terdapat dua buah al-Quran tulisan
tangan yang tersimpan di dalam Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat. Salah satu
yang diperlihatkan kepada pengunjung adalah hasil goresan tangan Abdurrahman
Stambul, seorang penduduk Pulau Penyengat yang dikirim oleh Kerajaan Lingga ke
Mesir untuk memperdalam ilmu Agama Islam, sekembalinya dari belajar dia menjadi
guru dan terkenal dengan "khat" gaya Istambul. Al-Quran ini
diselesaikan pada tahun 1867 sambil mengajar. Keistimewaan al-Quran Mushaf
Abdurrahman Stambul ini adalah banyaknya penggunaan "Ya Busra" serta
beberapa rumah huruf yang titiknya sengaja disamarkan sehingga membacanya
cenderung berdasarkan interpretasi individu sesuai akal dan ilmunya.
Istana
Kantor
Istana Kantor adalah istana dari
Yang Dipertuan Muda Riau VIII Raja Ali (1844-1857), atau juga yang disebut
dengan Marhum Kantor. Selain digunakan sebagai kediaman, bangunan yang dibangun
pada tahun 1844 ini juga difungsikan sebagai kantor oleh Raja Ali.
Istana Kantor berukuran sekitar 110
m2 dan menempati areal sekitar satu hektar yang seluruhnya dikelilingi tembok.
Bangunan dan puing yang masih ada memperlihatkan kemegahannya pada masa lalu.
Balai
Adat Melayu
Balai Adat Pulau Penyengat adalah
replika rumah adat Melayu yang pernah ada di Pulau Penyengat. Bangunan Balai
Adat merupakan rumah panggung khas Melayu yang terbuat dari kayu. Balai Adat
difungsikan untuk menyambut tamu atau mengadakan perjamuan bagi orang-orang
penting.
Di dalam gedung, kita dapat melihat
tata ruang dan beberapa benda perlengkapan adat resam Melayu, serta berbagai
perlengkapan atraksi kesenian yang digunakan untuk menjamu tamu-tamu tertentu.
Di bagian bawah Balai Adat ini
terdapat sumur air tawar yang konon sudah berabad lamanya dan sampai sekarang
airnya masih mengalir dan dapat langsung diminum.
Monumen
Bahasa Melayu
Pada tanggal 19 Agustus 2013,
telah diletakkan batu pertama pembangunan Monumen Bahasa Melayu di areal
dalam bekas Benteng Kursi, Pulau Penyengat, oleh Gubernur Kepulauan
Riau, HM Sani. Pembangunan
monumen ini merupakan wujud penghormatan dan penghargaan Pemerintah Provinsi
Kepri terhadap jasa-jasa Raja Ali Haji sebagai
pahlawan nasional
di bidang bahasa. Selain itu juga untuk lebih mengenalkan tentang asal dan arti
bahasa Melayu yang dipakai di Kepulauan Riau dan Lingga, serta bahasa Indonesia yang digunakan saat ini.[4]
Monumen Bahasa Melayu dibangun
sebagai tindak lanjut dari dari mufakat 12 kebudayaan Melayu antara Ketua
Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri dan LAM Provinsi Riau pada saat seminar
nasional bahasa Indonesia di Pekanbaru, Riau, 2010 lalu, yang dihadiri
masing-masing gubernur.[4]
artikel budi daya pohon sagu
1. Teknik Budidaya Tanaman Sagu
1. Nama Lain dari Tanaman Sagu
Sagu (Metroxylon sp.) di duga berasal dari Maluku dan Irian. Hingga saat ini belum ada data yangmengungkapkan sejak kapan awal mula sagu ini dikenal. Di wilayah Indonesia bagian Timur, sagu sejak lama dipergunakan sebagai makanan pokok oleh sebagian penduduknya terutama di Maluku dan Irian Jaya. Teknologi eksploitasi, budidaya dan pengolahan tanaman sagu yang paling maju saat ini adalah di Malaysia.
Tanaman Sagu dikenal dengan nama Kirai di Jawa Barat, bulung, kresula, bulu, rembulung, atau resula di Jawa Tengah; lapia atau napia di Ambon; tumba di Gorontalo; Pogalu atau tabaro di Toraja; rambiam atau rabi di kepulauan Aru.Tanaman sagu masuk dalam Ordo Spadicflorae, Famili Palmae. Di kawasanIndo Pasifik terdapat 5 marga (genus) Palmae yang zat tepungnya telah dimanfaatkan, yaituMetroxylon, Arenga, Corypha, Euqeissona, dan Caryota.Genus yang banyak dikenal adalah Metroxylon dan Arenga, karena kandungan acinya cukup tinggi.
Sagu dari genus Metroxylon, secara garis besar digolongkan menjadi dua, yaitu : yang berbunga atau berbuah dua kali (Pleonanthic) dan berbunga atau berbuah sekali (Hapaxanthic) yang mempunyai nilai ekonomis penting, karena kandungan karbohidratnya lebih banyak. Golongan ini terdiri dari 5 varietas penting yaitu :
1. Metroxylon sagus,Rottbol atau sagu molat
2. Metroxylon rumphii, Martius atau sagu Tuni.
3. Metroxylon rumphii, Martius varietas Sylvestre Martius atau sagu ihur
4. Metroxylon rumphii,Martius varietas Longispinum Martius atau sagu Makanaru
5. Metroxylon rumphii,Martius varietas Microcanthum Martius atau sagu Rotan
Dari kelima varietas tersebut, yang memiliki arti ekonomis penting adalah Ihur, Tuni, dan Molat.
Sagu mempunyai peranan sosial, ekonomi dan budaya yang cukup penting di Propinsi Papua karena merupakan bahan makanan pokok bagi masyarakat terutama yang bermukim di daerah pesisir. Pertanaman sagu di Papua cukup luas, namun luas areal yang pasti belum diketahui. Berdasarkan data penelitian dan pengambangan pertanian dapat diperkirakan luas hutan sagu di Papua mencapai 980.000 ha dan kebun sagu 14.000 ha, yang tersebar pada beberapa daerah, yaitu Salawati, Teminabuan, Bintuni, Mimika, Merauke, Wasior, Serui, Waropen, Membramo, Sarmi dan Sentani.
Sentra penanaman sagu di dunia adalah Indonesia dan Papua Nugini, yang diperkirakan luasan budi daya penanamannya mencapai luas 114.000 ha dan 20.000 ha. Sedangkan luas penanaman sagu sebagai tanaman liar di Indonesia adalah Irian Jaya, Maluku, Riau, Sulawesi Tengah dan Kalimantan.
1.Syarat Tumbuh
Jumlah curah hujan yang optimal bagi pertumbuhan sagu antara 2.000 – 4.000 mm/tahun, yang tersebar merata sepanjang tahun. Sagu dapat tumbuh sampai pada ketinggian 700 m di atas permukaan laut (dpl), namun produksi sagu terbaik ditemukan sampai ketinggian 400 m dpl. Suhu optimal untuk pertumbuhan sagu berkisar antara 24,50 – 29oC dan suhu minimal 15oC, dengan kelembaban nisbi 90%. Sagu dapat tumbuh baik di daerah 100 LS - 150 LU dan 90 – 180 darajat BT, yang menerima energi cahaya matahari sepanjang tahun. Sagu dapat ditanam di daerah dengan kelembaban nisbi udara 40%. Kelembaban yang optimal untuk pertumbuhannya adalah 60%.
Tanaman sagu membutuhkan air yang cukup, namun penggenangan permanen dapat mengganggu pertumbuhan sagu. Sagu tumbuh di daerah rawa yang berair tawar atau daerah rawa yang bergambut dan di daerah sepanjang aliran sungai, sekitar sumber air, atau di hutan rawa yang kadar garamnya tidak terlalu tinggi dan tanah mineral di rawa-rawa air tawar dengan kandungan tanah liat > 70% dan bahan organik 30%. Pertumbuhan sagu yang paling baik adalah pada tanah liat kuning coklat atau hitam dengan kadar bahan organik tinggi. Sagu dapat tumbuh pada tanah vulkanik, latosol, andosol, podsolik merah kuning, alluvial, hidromorfik kelabu dan tipe-tipe tanah lainnya. Sagu mampu tumbuh pada lahan yang memiliki keasaman tinggi. Pertumbuhan yang paling baik terjadi pada tanah yang kadar bahan organiknya tinggi dan bereaksi sedikit asam pH 5,5 – 6,5.
Sagu paling baik bila ditanam pada tanah yang mempunyai pengaruh pasang surut, terutama bila air pasang tersebut merupakan air segar. Lingkungan yang paling baik untuk pertumbuhannya adalah daerah yang berlumpur, dimana akar nafas tidak terendam. Pertumbuhan sagu juga dipengaruhi oleh adanya unsur hara yang disuplai dari air tawar, terutama potasium, fosfat, kalsium, dan magnesium.
Pengertian mengenai hutan sagu adalah hutan yang didominasi oleh tanaman sagu. Selain sagu, masih bnyak tanaman lain yang ditemukan dalam kawasan tersebut. Selain itu, dalam satu hamparan hutan sagu tidak hanya tumbuh satu jenis sagu, tetapi terdapat beragam jenis sagu dan struktur tanaman.
1 Teknologi Perbanyakan tanaman sagu
Teknologi perbanyakan tanaman sagu dapat dilakuan dengan metode generatif dan vegetatif. Secara generatif yaitu dengan menggunakan biji yang berasal dari buah yang sudah tua dan rontok dari pohonnya. Biji yang digunakan adalah biji yang berasal dari pohon induk yang baik, yang subur dan produksinya tinggi.
Perbanyakan tanaman sagu secara vegetatif dapat dilakukan dengan menggunakan bibit berupa anakan yang melekat pada pangkal batang induknya yang disebut dangkel atau abut (jangan yang berasal dari stolon).
2 Persemaian dan Pembibitan
D.1. Persyaratan Benih atau Bibit
Syarat bibit untuk pembibitan cara generatif adalah biji yang digunakan sudah tua, tidak cacat fisik, besarnya rata-rata dan bertunas. Syarat bibit untuk pembibitan cara vegetatif adalah berasal dari tunas atau anakan yang umurnya kurang dari 1 tahun, dengan diameter 10-13 cm dan berat 2-3 kg. Tinggi anakan +1 meter dan punya pucuk daun 3-4 lembar.
D.2. Penyiapan Benih atau Bibit
a). Cara generatif
Biji yang digunakan berasal dari buah yang sudah tua dan jatuh/rontok dari pohon induk yang baik, yaitu subur dan produksinya tinggi, tumbuh pada lahan yang wajar serta produksi klon rata-rata tinggi. Biji/buah yang diambil tersebut adalah buah yang tidak cacat fisik, besarnya rata-rata, dan bernas.
b). Cara Vegetatif
Pembiakan secara vegatatif dapat dilakukan dengan menggunakan bibit berupa anakan yang melekat pada pangkal batang induknya. Adapun cara pengadaan adalah sebagai berikut :
1. Pengambilan dengkel dipilih yang terletak di permukaan atas.
2. Pemotongan dilakukan di sisi kiri dan kanan sedalam 30 cm, tanpa membuang akar serabutnya.
3. Dangkel yang telah dipotong, dibersihkan dari daun-daun dan ditempatkan pada tempat yang mendapat cahaya matahari langsung dengan bagian permukaan belahan tepat pada tempat di mana cahaya matahari jatuh, selama 1 jam.
4. Luka bekas irisan dangkel yang msih tertanam segera dilumuri dengan zat penutup luka (seperti : TB-1982 atau Acid Free Coalteer) untuk mencegah hama dan penyakit.
5. Bibit sagu direndam dalam air aerobic selama 3-4 minggu. Setelah itu bibit ditanam.
6. Penyiapan dangkel sebaiknya dilakukan pada waktu menjelang sore hari, kemudian pada sore hari dangkel dikumpulkan dan pada waktu malam hari diangkut ke lahan, untuk menghindari kerusakan dangkel oleh cahaya matahari.
7.
D.3. Teknik Penyemaian Benih
a) Cara generatif :
Secara generatif penyemaian benih tanaman sagu dapat dilakukan dengan cara perkecambahan tidak langsung, penyiapan media, penataan bibit dan pembibitan, sebagai berikut.
1. Perkecambahan tak langsung
· Penyiapan media : Wadah atau bak dari bata atau bambu berukuran tinggi 30-40 cm, panjang tidak lebih dari 2 meter dan lebar 1,2 – 1,5 cm. Selanjutnya sepertiga bagian bawah diisi pasir dan atasnya serbuk gergaji basah.
· Penataan Bibit : bibit ditata dengan jarak 10 x 10 cm; 10 x 15 cm; atau 15 x 15 cm dengan posisi miring atau tegak, bagian lembaga diletakkan di bawah, ¾ bagian bibit ditekan dalam serbuk gergaji. Kelembaban media dijaga antara 80-90%. Setelah umur 1-2 bulan dan sudah berdaun 2-3 lembar, bibit dipindah ke bedeng pembibitan.
2. Pembibitan (Perkecambahan tak langsung di media pembibitan)
· Penyiapan media : Tanah diolah sedalam 45-60 cm, digemburkan dan ditambah pupuk dasar. Ukuran bedeng tinggi 30 cm; lebar 1,25 m; dan panjang + 8-10 dengan jarak antar bedengan 30-50 cm.
· Pengaturan pembibitan tanpa penjarangan : Bibit ditanam dengan jarak 25 x 25cm sampai dengan 40 x 40 cm. Pengaturan pembibitan dengan penjarangan : Pada mulanya bibit ditanam dengan jarak rapat, yaitu 12,5 x 12,5 cm; 15 x 15 cm; atau 20 x 20 cm.
D.4. Pemeliharaan Penyemaian
Cara generatif dengan penjarangan :
1. Dilakukan setelah satu bulan, yaitu menjadi 25 x 25 cm; atau 40 x 40 cm.
2. Selama masa penyemaian kelembaban dipertahankan 80 – 90 %
3. Diberi naungan agar tidak kena cahaya matahari langsung.
4. Peyiraman dilakukan setiap saat.
D.5. Pemindahan Bibit
a). Cara generatif :
Bibit yang berumur 6 -12 bulan dapat dipindahkan atau ditanam. Cara pengangkatannya ke kebun atau tempat penanaman mudah dan murah.
b). Cara Vegetatif
Setelah diambil dapat langsung ditanam.
1. Pengolahan Media Tanam
2. Persiapan
Lahan dipilih yang sesuai dengan ketentuan. Menurut kebiasaan petani sagu Riau dan Maluku, penanaman sagu dilakukan pada awal musim hujan.
1. Pembukaan Lahan
Lahan dibersihkan dari semua vegetasi di bawah diameter 30 cm dekat permukaan tanah dan semua pohon yang tinggal. Vegetasi bawah dan ranting – ranting kecil tersebut dibakar dan abunya untuk pupuk. Pokok – pokok batang yang besar, yang sulit penggaliannya dapat ditinggalkan begitu saja di lahan, kecuali pokok – pokok yang berada pada calon baris tanaman harus dibersihkan.
1. Pembentukan bedengan
Dilakukan untuk penanaman dengan cara blok (biasanya dilakukan perusahaan perkebunan sagu). Adapun tata cara pembangunan blok adalah:
1. Ukuran blok 400 x 400 m, jadi satu blok luasnya 16 ha. Biasanya di tengah – tengah blok dibangun kanal tersier.
2. Kanal yang harus dibangun ada 3 macam, yaitu : kanal utama, kanal sekunder, dan kanal tersier.
3. Kanal utama adalah kanal yang digali tegak lurus terhadap sungai, dibangun di setiap dua blok kebun sagu, jaraknya dari kanal utama satu dengan yang lain adalah 800 m. Fungsinya sebagai pengaliran air dari sungai ke dalam blok – blok sagu, dan sebagai jalur transportasi utama dari kebun ke sungai dan sebaliknya, serta untuk penyanggah pengaruh air pasang. Kanal utama ini lebarnya 2,5 m.
4. Kanal sekunder adalah kanal yang digali tegak lurus terhadap kanal utama (melintang pada blok dan kanal utama). Kanal ini berfungsi sebagai pembatas antara empat blok sagu disebelahnya; sebagai jalur transportasi sagu dari kebun dan atau kanal tersier ke kanal utama. Lebar kanal sekunder adalah 2 m.
5. Kanal tersier adalah kanal yang digali pada pertengahan blok atau di antara dua blok atau melintangi di antara blok – blok yang saling berseberangan dan sebagai jalur transportasi dari kebun sagu bagian dalam, ke sungai atau kanal utama, atau ke kanal sekunder atau juga ke kanal tersier melintang dan sebaliknya. Lebar kanal tersier adalah 1,5 m.
6. Saluran drainase lebarnya 0,75 – 1,00 m.
7. Lain - lain
Menentukan sistem dan alat transportasi, karena lahan penanaman sagu didominasi oleh lahan yang berupa rawa dan lahan pantai yang sering dipengaruhi pasang surut. Lahan sebagian merupakan daerah berair, maka infrastruktur harus terdiri atas sistem kanal sebagai pengganti jalan darat.
1. Penanaman dan Penyulaman
2. Penentuan Pola tanam
Penanaman dengan sistem blok adalah jarak tanam atau jarak lubang antar bervariasi antara 8-10 meter, sehingga satu hektar hanya menampung + 150 buah. Jarak tanam yang dianggap ideal adalah :
1. Sagu Tuni 8 x 8 atau 9 x 9 m, hubungan segitiga sama sisi, sehingga 1 hektar akan memuat 143 tanaman.
2. Sagu Ihur 9 x 9 m, hubungan segitiga sama sisi, sehingga 1 hektar akan memuat 143 tanaman.
3. Sagu Molat 7 x 7, hubungan segi empat, sehingga 1 hektar akan memuat 2043 tanaman
4. Jika ketiga varietas ditanam secara bersama – sama, maka ditanam secara terpisah menurut blok.
5. Pembuatan Lubang tanam
Lubang tanam digali sebulan/selambat-lambatnya 1 minggu sebelum penanaman dengan ukuran lubang 30x30x30 cm. Hasil galian tanah bagian atas dipisahkan dari tanah lapisan bawah dan dibiarkan beberapa hari. Pada lubang tanaman itu ditempatkan pancang – pancang bambu, tiap lubang 2 pacang.
1. Cara Penanaman
Cara penanaman dilakukan dengan membenamkan dangkel ke dalam lubang tanaman. Bagian pangkal dangkel ditutup dengan tanah remah bercampur gambut. Tanah penutup jangan ditekan tapi dangkel jangan sampai bergerak. Tanah lapisan atas dimasukkan sampai separuh lubang apabila mungkin di campur puing – puing. Akar – akar dibenamkan pada tanah penutup lubang dan pangkalnya agak ditekan sedikit ke dalam tanah.
1. Penyiangan (pengendalian gulma)
Penyiangan dilakukan terhadap gulma dan dilakukan pada sagu muda (3 – 4 tahun), sebab rawan terhadap serangan hama. Gulma juga akan memperbesar peluang kebun dilanda kebakaran. Proses penyiangan dapat dilakukan dengan menggunakan tangan, sabit, parang, cangkul dan sebagainya. Hasil dari penyiangan dipendam/dikomposkan. Bila gulma mengandung hama/vektor dan kayu, dibakar dan abunya dijadikan pupuk.
1. Pengendalian Hama dan Penyakit
Pada tanaman sagu terdapat hama dan penyakit yang dapat mengurangi hasil panen. Beberapa jenis hama dan penyakit adalah sebagai berikut.
Hama
a. Kumbang (Oryctes rhinoceros sp.)
Gejala dari serangan hama ini adalah terdapat lubang pada pucuk daun bekas gerekan kumbang, setelah berkembang tampak terpotong seperti di gunting dalam bentuk segitiga. Pengendalian dapat dilakukan secara mekanis dan bilogis. Pengendalian secara mekanis adalah dengan cara pohon – pohon sagu yang mendapat serangan ditebang dan dibakar. Pengendalian secara biologis dapat dengan menggunakan musuh alami.
b. Kumbang sagu (Rhynchophorus sp)
Ciri dari serangan hama ini adalah, serangan sekunder setelah kumbang oryctes biasanya meletakkan telur di luka bekas oryctes. Bila serangan terjadi pada titik tumbuh dapat menyebabkan kematian pohon. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara mekanik dan biologis.
c. Ulat daun Artona (Artona catoxantha, Hamps. Atau Brachartona catoxantha)
Ulat daun selain merusak daun pada sagu, juga menyerang pada daging buah, ulat daun ini menyerang jaringan dalam daun. Pengendalian pada ulat daun dapat dilakukan secara mekanik dan biologis.
d. Babi hutan
Binatang ini merusak sagu tingkat semai dan sapihan (umur 1-3 tahun), memakan umbut (pucuk batang yang masih muda). Pengendalian hama binatang ini adalah dengan cara memburu dan membunuhnya agar populasi terkendali.
e. Kera (Macaca irus)
Binatang ini mempunyai potensi untuk merusak bagian sagu muda dan selalu merusak lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Pengendalian untuk binatang ini sama dengan pengendalian binatang babi hutan.
Penyakit
Penyakit yang biasanya terdapat pada tanaman sagu adalah bercak kuning yang disebabkan oleh cendawan Cercospora. Gejala dari penyakit ini adalah daun berbercak – bercak coklat.
1. Pemupukan
Unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman sagu, antara lain kalsium, kalium dan magnesium. Pada hutan sagu liar, pemeliharaan tanaman berupa pemupukan jarang dilakukan. Berbeda dengan hutan budidaya sagu yang mengejar produktivitas yang optimal, maka akan dilakukan pemupukan. Beberapa jenis pupuk Pemupukan dilakukan dengan membenamkan pupuk dalam tanah, agar tidak terbawa air sebelum terabsorbsi oleh akar tanaman lahan yang berada di daerah rawa/dataran rendah dan pasang surut yang sering yang terjadi luapan air. Pemupukan dilaksanakan secara melingkar di sekeliling rumpun atau secara lokal di daun sisi rumpun pada jarak sejauh pertengahan antara ujung tajuk dengan pohon/rumpun sagu. Waktu pemupukan untuk tanaman sagu muda adalah sampai 1 tahun menjelang panen, pemupukan dilakukan 1-2 kali setahun. Pemupukan sekali setahun, dilakukan pada awal musim hujan. Sedangkan untuk pemupukan dua kali setahun dilakukan pada awal dan akhir musim hujan, masing – masing dengan ½ dosis.
Tabel 65. Dosis pupuk pada budidaya sagu (per pohon)
panen
Ciri dan umur panen
Panen dapat dilakukan umur 6 -7 tahun, atau bila ujung batang mulai membengkak disusul keluarnya selubung bunga dan pelepah daun berwarna putih terutama pada bagian luarnya. Tinggi pohon 10 – 15 m, diameter 60 – 70 cm, tebal kulit luar 10 cm, dan tebal batang yang mengandung sagu 50 – 60 cm. Ciri pohon sagu siap panen pada umumnya dapat dilihat dari perubahan yang terjadi pada daun, duri, pucuk dan batang. Cara penentuan pohon sagu yang siap panen di Maluku adalah sebagai berikut :
1. Tingkat Wela/putus duri, yaitu suatu fase dimana sebagian duri pada pelepah daun telah lenyap. Kematangannya belum sempurna dan kandungan acinya masih rendah, tetapi dalam keadaan terpaksa pohon ini dapat di panen.
2. Tingkat Maputih, ditandai dengan menguningnya pelepah daun, duri yang terdapat pada pelepah daun hampir seluruhnya lenyap, kecuali pada bagian pangkal pelepah masih tertinggal sedikit. Daun muda yang terbentuk ukurannya semakin pandek dan kecil. Pada tingkat ini sagu jenis Metroxylon rumphii Martius sudah siap dipanen, karena kandungan acinya sangat tinggi.
3. Tingkat Maputih masa/masa jantung, yaitu fase dimana semua pelepah daun telah menguning dan kuncup bunga mulai muncul. Kandungan acinya telah padat mulai dari pangkal batang sampai ujung batang merupakan fase yang tepat untuk panen sagu ihur (Metroxylon sylvester Martius)
4. Tingkat siri buah, merupakan tingkat kematangan terakhir, di mana kuncup bunga sagu telah mekar dan bercabang menyerupai tanduk rusa dan buahnya mulai terbentuk. Fase ini merupakan saat yang paling tepat untuk memanen sagu jenis Metroxylon longisipium Martius
Cara Panen
Langkah-langkah pemanenan sagu adalah sebagai berikut :
1. Pembersihan untuk membuat jalan masuk ke rumpun dan pembersihan batang yang akan di potong untuk memudahkan penebangan dan pengangkutan hasil tebangan.
2. Sagu dipotong sedekat mungkin dengan akarnya. Pemotongan menggunakan kampak/mesin pemotong (gergaji mesin).
3. Batang dibersihkan dari pelepah dan sebagian ujung batangnya karena acinya rendah, sehingga tinggal gelondongan batang sagu sepanjang 6 – 15 meter. Gelondongan dipotong – potong menjadi 1-2 meter untuk memudahkan pengangkutan. Berat 1 gelondongan adalah + 120 kg dengan diameter 45 cm dan tebal kulit 3,1 cm.
Periode Panen dan Perkiraan Produksi
Pemanenan kedua dilakukan dengan jangka waktu + 2 tahun. Perkiraan produksi hasil yang paling mendekati kenyataan pada kondisi liar dengan produksi 40 – 60 batang/ha/tahun, jumlah empulur 1 ton/batang, kandungan aci sagu 18,5 %, dapat diperkirakan hasil per hektar per tahun adalah 7 – 11 ton aci sagu kering. Secara teoritis, dari satu batang pohon sagu dapat dihasilkan 100 -600 Kg aci sagu kering. Rendemen total untuk pengolahan yang ideal adalah 15%.
2. Teknik Produksi Bioethanol Sagu
Bagian terpenting dalam tanaman sagu adalah batang sagu karena merupakan tempat penyimpanan cadangan makanan (karbohidrat) yang dapat menghasilkan pati sagu. Tinggi batang sagu dewasa mencapai 10 m . Ukuran dari batang sagu dan kandungan patinya tergantung pada jenis sagu, umur dan habitatnya. Pada umur panen sekitar 11 tahun ke atas empulur sagu mengandung pati sekitar 15-20 persen. Setiap pohon sagu dapat menghasilkan tepung sagu berkisar antara 50-450 kg tepung sagu basah.
Kandungan pati maksimal terjadi pada waktu sagu sebelum berbunga. Munculnya primordia bunga biasanya menunjukkan kandungan pati menurun. Kandungan pati menurun karena digunakan sebagai energi untuk pembentukan bunga dan buah. Setelah pembungaan dan pembentukan buah, batang akan menjadi kosong dan tanaman sagu mati. Keadaan tersebut mempermudah petani dalam mengetahui kandungan pati sagu secara maksimal.
Sagu merupakan salah satu sumber karbohidrat potensial disamping beras, khususnya bagi sebagian besar masyarakat di kawasan Timur Indonesia seperti Irian Jaya dan Maluku. Beberapa produk olahan dari pati sagu antara lain papeda, soun, dan ongol-ongol. Diperkirakan hampir 90% areal sagu Indonesia berada di Irian Jaya dan saat ini arealnya menyusut akibat esksploitasi yang berlebihan. Sistem pengolahan sagu di Indonesia masih sangat rendah yang ditandai dengan kapasitas dan produktivitas pengolahan yang masih rendah.
Di pasaran internasional tepung sagu digunakan sebagai bahan substitusi tepung terigu untuk pembuatan biskuit, mie, sirup berkadar fruktosa tinggi, industri perekat, dan industri farmasi. Pemanfaatan dan nilai tambah sagu pada tingkat petani masih sangat sederhana. Hal ini karena sebagian besar tujuan pengolahan sagu hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Cara sederhana tersebut menghasilkan rendemen yang rendah dan kurang efisien.
Sagu memiliki kandungan karbohidrat, protein, lemak, kalsium, dan zat besi yang tinggi. Dengan kandungan tersebut, sagu berpotensi dijadikan sebagai bahan baku sirup glukosa yang dapat meningkatkan nilai tambah sagu. Pati sagu mengandung 27% amilosa dan 73% amilopektin. Perbandingan komposisi kadar amilosa dan amilopektin akan mempengaruhi sifat pati. Semakin tinggi kadar amilosa maka pati bersifat kurang kering, kurang lekat dan mudah menyerap air (higroskopis).
Pati sagu memiliki granula yang berbentuk elips agak terpotong dengan ukuran granula sebesar 20-60 mm dan suhu gelatinisasinya berkisar 60-72oC. Sedangkan menurut Wirakartakusumah et al., (1986) suhu gelatinisasi pati sekitar 72-90oC
dan dosis pemupukan disajikan pada Tabel 65.
Selasa, 08 Januari 2019
tips menghemat batry hp
1. Matikan sinyal radio Sering kali,
di beberapa daerah tertentu, smartphone bisa kehilangan sinyal. Hal tersebut
dapat terjadi karena menara pemancar sinyal berada jauh dari lokasi smartphone
atau trafiknya sedang penuh. Apabila sinyal hilang atau melemah, sistem
smartphone biasanya akan terus mencari koneksi terbaik. Pencarian sinyal secara
terus menerus dapat membuat baterai habis dengan cepat. Oleh karena itu,
sebaiknya matikan saja sinyal radio, jika pengguna benar-benar yakin tidak akan
mendapatkan sinyal dalam beberapa waktu. Biasanya, pilihan untuk mematikan
sinyal radio terdapat di menu "Setting". Matikan juga fitur WiFi dan
Bluetooth apabila sedang tidak digunakan. Kedua perangkat tersebut juga dapat
membuat baterai smartphone cepat habis.
2. Aktifkan Airplane Mode Tidak mau terlalu
repot-repot dalam mengatur sinyal? Pengguna dapat dengan mudah mematikan semua
sinyal radio yang ada di smartphone hanya dengan sebuah mode, yaitu Airplane
Mode. Dengan menyalakan Airplane Mode, semua sinyal radio, baik GSM, WiFi,
maupun Bluetooth, akan langsung dimatikan
3. Matikan fitur getar (vibrate) Fitur getar
terkadang dapat sangat membantu apabila ada panggilan telepon atau pesan yang
masuk pada saat pengguna sedang rapat atau di tempat lain yang membutuhkan ponsel
dalam keadaan silent. Namun, sebenarnya fitur getaran ini membutuhkan daya
baterai lebih banyak dibandingkan ringtone biasa. Berdasarkan fakta tersebut,
apabila pengguna sedang tidak membutuhkan fitur ini, sebaiknya matikan fitur
getar yang ada di smartphone.
4. Tutup aplikasi yang jarang
dipakai Ada banyak aplikasi yang jarang dipakai. Sebagai contoh, aplikasi
pengecekan skor pertandingan sepak bola Livescore. Kemungkinan besar, aplikasi
tersebut hanya dipakai satu minggu sekali pada saat sedang ada pertandingan.
Nah, sebaiknya tutup aplikasi yang jarang dilihat seperti itu. Sebab,
sebenarnya aplikasi itu tetap berjalan di background, meski Anda tidak
melihatnya sepanjang satu minggu itu. Berjalan di background berarti tetap
memerlukan daya pemrosesan. Sebaliknya, jangan tutup aplikasi yang sering
digunakan karena ini malah berpotensi memboroskan baterai. Saat sebuah aplikasi
dimatikan, data-data program bersangkutan dihapus dari memori (RAM). Ketika
aplikasi itu kemudian dipanggil lagi, perangkat terpaksa "memanggil
ulang" data-data yang diperlukan dan menyimpannya di dalam RAM. Ini
membutuhkan pemrosesan sistem. Memang berjalan di background berarti menyerap
baterai, tetapi tidak akan menghabiskan baterai sebesar saat pengguna menutup
dan membuka sebuah aplikasi secara berulang-ulang.
5. Jangan "streaming" Kurangi
kegiatan streaming apabila tidak ingin baterai habis dengan cepat. Menonton
video atau mendengarkan musik via layanan streaming memang menyenangkan, tetapi
kegiatan ini akan "memaksa" sistem ponsel terus bekerja dan akhirnya
membuat baterai cepat habis. Baca: Ini 3 Layanan Video Streaming untuk Temani
Mudik Solusi untuk tetap dapat mendengarkan musik atau menonton video, unduh
film dan lagunya sebelum berangkat mudik. Baca: Bisa Nonton YouTube Tanpa
Internet Saat Mudik, Begini Caranya
6. Redupkan layar Semakin cerah tampilan
layar, maka semakin cepat baterai habis. Oleh karena itu, redupkan atau matikan
layar apabila sedang tidak digunakan
Langganan:
Postingan (Atom)



